Iklan

Cari artikel menarik di blog sini

Jumat, 15 Juli 2016

Makalah Sejarah Kerajaan Safawi di Persia

 A. Sejarah Muncul Kerajaan Safawiah di Persia
Persia selama kurang lebih delapan abad lamanya berada di bawah kekuasaan arab dan mongol. Pada awal abad ke-16 (1501 M) orang Persia dapat mendirikan sebuah kerajaan yang beraliran syi’ah dibawah pimpinan Shekh Ismail. Bangsa safawiyah adalah penganut sekte syi’ah yang taat dari keturunan imam ketujuhnya, yaitu imam Musa al-Qazim. Pada masa kekuasaan Timur Lang orang safawi berdiam di kota Ardabil, Azerbaijan. Terdapat seseorang sufi dan ulama terkenal yaitu Sheik Safiuddin Ishak adalah kakek dari Sheikh Ismail. Berangkat dari namanya inilah dinasti ini dinamakan Syafawiah.[1]
Shah Ismail, seorang sufi yang menyukai filsafat agama, adalah khalifah yang pertama kali dalam dunia islam yang menerapkan Syi’ah Itsna ‘Asy’ariah sebagai ajaran resmi Negara di iran, lanjutan dari timur yang menjadikan paham Syi’ah  Shah Ismail pun dijuluki sebagai Shah-e-Syi’ah (Raja orang-orang Syi’ah).[2]

Selama periode safawiah dipersia persaingan antara untuk mendapatkan kekuasaan antara Turki dan Persia menjadi realita,Namun demikian, Ismail menjumpai saingan terberat sebagai kepala batu yaitu Sultan Turki Usmani, Salim I penyebab ketegangan antara kedua penguasa muslim berasal dari kebencian Salim dan pengejaran terhadap seluruh umat muslim Syi’ah yang ada di daerah kekuasaannya. Fanatisme Salim memaksanya untuk membunuh 40.000 orang yang dicurigai dan didakwa, bahwa mereka itu telah mengingkari ajaran sunni. Ketegangan kedua penguasa yang menjadi kenyataan dalam perang Chalddiran,Tabriz (6 September 1514), dimana Ismail hampir ditawan, meskipun para tentara Jenisari Turki tidak puas di daerah Iran, mereka segera pulang ke Turki sebelum menundukan Ismail secara penuh. Namun, hasil yang nyata ialah derah Diyar-e-Bakr dan khuzistan menjadi wilayah kekuasaan Turki Usmani. Persia pimpinan Shah Ismail yang dibangkitkan oleh motif-motif religius dan politik guna menjalankan perang dengan Turki, Shah mengadakan persahabatan dengan portugis yang ada di india untuk menyerbu Turki dan Mesir. Tetapi, kegemaran Salim untuk berperang sangat kuat tidak dapat dihalang-halangi. Perjanjian Persia-Portugis akhirnya tidak terwujud.
Pada 1524, Shah Ismail wafat. Wilayah kekuasaannya meliputi daerah Utara Tranxosiana sampai Teluk Persia di wilayah selatan. Afganistan di bagian timur hingga bagian barat sungai Efrat. Setalah Ismail wafat, puteranya yang bernama Shah Thamasp, yang berusia sepuluh tahun diangkat sebagai raja. Pada 1554 M, ia mengadakan perjanjian damai dengan Sulaiman Agung dari Turki Usmani. Dengan perjanian ini, seluruh Persia dikuasai kecuali Diar-eBakr dan Kurdistan.
Shah Thamasp seorang yang pandai dan pelukis kaligrafi. Ia menulis biografinya sendiri. Ibu kota dipindahkan ke kazwin, kota ini dalam relatif singkat menjadi pusat pendidikan kebudayaan. Dia menjadi penguasa yang paling lama dari kerajaan Syafawiyah.

B. Wujud dan Corak Kemajuan Kerajaan Safawi
1. Kemajuan di Bidang Politik
 Masa kemajuan Kerajaan Safawi tidak langsung terjadi pada masa Ismail, Raja pertama (1501-1524 M) kejayaan Safawi yang gemilang baru di capai pada masa Syah Abbas yang Agung (1587-1628 M) Raja yang kelima. Walaupun begitu, peran Ismail sebagai pendiri Safawi sangat besar sebagai peletak pondasi bagi kemajuan Safawi di kemudian hari. Dia telah memberikan corak yang khas bagi Safawi dengan menetapkan Syiah sebagai mazhab negara. Syah Ismail juga telah memberikan dua karya besar bagi negaranya, yaitu perluasan wilayah dan penyusunan struktur pemerintahan yang unik pada masanya.[3]
Seperti di katakan sebelumnya Safawi jaya pada masa Abbas I (1587-1628).   Syah Abbas yang Agung naik tahta pada usia 17 tahun. Ketika Abbas memerintah kerajaan Safawi berada dalam keadaan tidak stabil. Syah Abbas menempuh beberapa langkah untuk memperbaiki situasi tersebut, antara lain:
a)      Menghilangkan dominasi pasukan Qizilbash atas kerajaan Safawi dengan membentuk pasukan baru yang terdiri dari bekas tawanan perang bekas orang-orang Kristen di Georgia dan Circhasia yang sudah mulai di bawa ke Persia sejak Syah Tahmasap I (1524-1576) di beri nama “ Ghulam”.
b)      “Mengadakan perjanjian damai dengan Turki Usmani dengan cara berjanji menyerahkan wilayah Azerbaizan, Georgia dan sebagian wilayah Luristan, dan tidak akan menghina tiga khalifah pertama dalam Islam (Abu Bakar, Umar, Usman) dalam khutbah jum’atnya”.
      Secara politik Syah Abbas I sangat maju, karena ia mampu mewujudkan integritas wilayah negara yang luas yang di kawal oleh suatu angkatan bersenjata yang tangguh. Angkatan bersenjata yang di sebut “ghulam”, dalam proses pembentukannya di katakan bahwa Syah Abbas I mendapat dukungan dari dua orang Inggris yaitu Sir Antoni Sherly dan saudaranya Sir Rodet Sherly. Mereka mengajari tentara Safawi untuk membuat meriam sebagai pelengkapan negara yang modern. Kedatangan kedua orang Inggris itu oleh sebagian sejarawan di pandang sebagai upaya strategi Inggris untuk melemahkan pengaruh Turki Usmani di Eropa yang menjadi musuh besar Inggris saat itu. Bagaimanapun dengan bantuan dua orang Inggris itu Syah Abbas memiliki tentara dapat diandalkan. Hal ini terbukti sekitar 3.000 Ghulam di jadikan “Cakrabirawa” oleh Syah sendiri.
      Kemajuan lain di bidang politik yang di tunjukkan Syah Abbas, yaitu keberhasilannya merebut kembali daerah-daerah yang pernah di rebut Turki Usmani.
2. Kemajuan di bidang Ekonomi
    Dengan angkatan perang “ghulam” Syah Abbas mampu melakukan expansi pada tahun 1598 M Abbas I menguasai Heart (Harat), Marw dan Balkh. Kemudian pada tahun 1622 M berhasil menguasai Kepulauan Hurmuz, dan pelabuhan Gumrun.
            Perkembangan pesat di sektor perdagangan terjadi setelah Abbas I menguasai kepulauan Hurmuz dan mengubah Pelabuhan Gumrun menjadi Bandar Abbas. Hal ini di karenakan Bandar ini merupakan salah satu jalur dagang antara Barat dan Timur. Dengan ini, Safawi telah memegang kunci perdagangan Internasional, khususnya di teluk Persia yang ramai, di Utara Safawi menjalin Hubungan perdagangan dengan Rusia. Perdagangan di darat dari sentral Asia melalui kota-kota penting di Safawi seperti Harat, Merf, Nighafur, Tabriz, dan Baghdad. Di bidang pertanian, Safawiyah mengalami kemajuan karena daerah Bulan Sabit yang subur (Fertile Creshen).[4]

3. Kemajuan di Bidang Seni Arsitektur
      Ibu kota Safawi adalah kota yang sangat indah. Pembangunan besar-besaran dilakukan Syah Abbas terhadap Ibu kotanya Isfahan.pada saat Syah Abbas I meninggal, terdapat 162 buah Masjid, 48 buah Perguruan tinggi, 1082 Losmen yang luas untuk penginapan tamu syah dan 237 unit pemandian umum. “Bangunan yang paling terkenal adalah Mesjid Luthfullah yang di bangun pada 1603 M dan selesai 1618 M, merupakan sebuah Oratorium yang di sediakan sebagai tempat peribadatan pribadi Syah. Pada sisi bagian selatan terdapat mesjid kerajaan yang mulai di bangun pada 1611 M dan selesai pada 1629 M pada sisi bagian Barat berdiri Istina Ali Qapu yang merupakan gedung pusat pemerintahan. Pada sisi bagian Utara berdiri bangunan monumental yang menjadi simbol bagi gerbang menuju bazar kerajaan dan sejumlah pertokoan, tempat pemandian, Caravansaries, mesjid dan perguruan” Syah Abbas juga membangun Istana yang megah yang di sebut Chihil Sutun atau Istana empat puluh tiang,sebuah jembatan besar di atas sungai Zende Rud dan Taman Bunga Empat Penjuru.[5]

4. kemajuan di bidang Filsafat dan Sains
    Pada Kerajaan Safawi Filsafat dan Sains bangkit kembali di dunia islam, dan khususnya di kalangan orang Persia yang berminat tinggi pada perkembangan kebudayaan. Perkembangan ini erat kaitannya dengan Aliran Syiah yang di tetapkan Safawi sebagai ideologi resmi Negara.
            Dalam Syiah terdapat dua golongan, yakni Akbari dan Ushuli. Mereka berbeda dalam memahami ajaran agama. Akbari cenderung berpegang teguh kepada hasil ijtihat para mujtahit syiah yang sudah mapan. Sedangkan ushu;li mengambil langsung vdari Al-qur’an dan Hadits, tanpa terikat kepada para mujtahid. Golongan Ushuli inilah yang paling berperan pada masa Syafawi. Dibidang teologi mereka mendapat dukungannya dalam mazhab Muktazilah pertemuan kedua elemen  kelompok inilah yang berperan pada terwujudnya perkembangan baru dalam bidang filsafat dan ilmu pengetahuan di dunia Islam yang kemudian melahirkan beberapa filosuf dan Ilmuan.
            Ada dua aliran filsafat yang berkembang pada masa Safawi yaitu “aliran filsafat perifatetik” seperti yang dikemukakan oleh Aristoteles dan Al-farabi, dan “aliran filsafat israqi” yang di bawa oleh Suhrawardi pada abad XII.
            Beberapa tokoh filsafat yang muncul pada masa Safawi antara lain Mir Damad alias Muhammad Baqir Damad 1631 M yang dianggap sebagai guru ketiga setelah Aristoteles dan Al-farabi, dan Mulla Shadra atau Shadr Al-din Al-Syirazi. “Menurut amir Ali ia adalah seorang dialektikus yang paling cakap di zamannya”. dan Baha Al-Syerazi seorang generalis Ilmu Pengetahuan.
            “Dalam pengembangan ilmu pengetahuan Syah Abbas sendiri ikut aktif dalam penelitian ilmu-ilmu tersebut, Kota Qumm pada saat itu menjadi pusat pengenbangan kebudayaan dan penyelidikan mazhab Syiah terbesar”.

C. Kemunduran dan Kehancuran Kerajaan Safawi
      Sepeninggal Abbas I, kerajaan Safawi berturut-turut dipimpin oleh enam raja, yaitu Safi Mirja (1628 - 1642 M), Abbas II (1642 – 1667 M), Sulaiman (1667 – 1694 M), Husein (1694 – 1722 M), Tahmasap II (1722 – 1732 M) dan Abbas III (1733 – 1736 M). Pada masa raja-raja tersebut kondisi kerajaan Safawi tidak menunjukkkan grafik naik dan berkembang, tapi justru memperlihatkan yang akhirnya membawa kepada kehancuran. Raja Safi Mirza (cucu Abbas I) juga menjadi penyebab kemunduran Safawi karena dia seorang raja yang lemah dan sangat kejam terhadap pembesar-pembesar kerajaan. Di lain sisi dia juga seorang pencemburu yang akhirnya mengakibatkan mundurnya kemajuan-kemajuan  yang diperoleh pemerintahan sebelumnya (Abbas I).
      Kota Qandahar lepas dari kekuasaan Safawi, diduduki oleh kerajaan Mughal yang ketika itu diperintah oleh Syah Jehan, sementara Baghdad direbut oleh kerajaan Turki Usmani. Syah Abbas II adalah raja yang suka minum-minuman keras hingga ia jatuh sakit dan meninggal. Sebagaimana Abbas II, Sulaiman juga seorang pemabuk. Ia bertindak kejam terhadap para pembesar yang dicurigainya. Akibatnya rakyat bersikap masa bodoh terhadap pemerintahan. Ia diganti oleh Syah Husein yang alim. Ia memberi kekuasaan yang besar kepada para ulama Syi’ah yang sering memaksakan pendapat penganut aliran Sunni. Sikap ini membangkitkan kemarahan golongan sunni Afghanistan,. Pemberontakan bangsa Afgan tersebut terjadi pertama kali pada tahun 1709 M di bawah pimpinan Mir Vais yang berhasil merebut wilayah Qandahar. Pemberontakan lainnya terjadi di Heart, suku Ardabil Afghanistan berhasil merebut masyad. Mir Vais di gantikan oleh Mir Mahmud dan ia dapat mempersatukan pasukannya dengan pasukan Ardabil, sehingga ia mampu merebut Afghan dari kekuasaan Safawi. Karena desakan dan ancaman dari Mir Mahmud, Syah Husein akhirnya mengakui kekuasaan Mir Mahmud dan mengangkatnya menjadi gubernur di Qandahar dengan gelar Husein Quli Khan (budak Husein).dengan pengakuan ini, Mir Mahmud makin leluasa bergerak sehingga tahun 1721 M, ia merebut Qirman dan tak lama kemudian ia menyerang Isfahan dan memaksa Syah Husein menyerah tanpa syarat. Pada tahun 1722 M Syah Husein menyerah dan Mir Mahmud memasuki kota Isfahan dengan penuh kemenangan.
            Salah seorang putra Husein yang bernama Tahmasap II, mendapat dukungan penuh dari suku Qazar dari Rusia, memproklamasikan dirinya sebagai raja yang sah atas Persia dengan pusat kekuasaan di kota Astarabat. Tahun 1726 M, Tahmasap II bekerjasama dengan Nadir Khan dari suku Afshar untuk memerangi dan mengusir bangsa Afghan yang menduduki Isfahan. Asyraf, pengganti Mir Mahmud, yang berkuasa di Isfahan digempur dan dikalahkan oleh pasukan Nadir Khan tahun 1729 M. Asyraf sendiri terbunuh dalam peperangan itu dengan demikian Kerajaan Safawi kembali berkuasa. Namun pada tahun 1732 M, Tahmasap II di pecat oleh Nadir Khan dan di gantikan oleh Abbas III (anak Tahmasap II) yang ketika itu masih sangat kecil. Empat tahun setelah itu 1736 M, Nadir Khan mengangkat dirinya sebagai raja menggantikan Abbas III, dengan demikian berakhirlah kekuasaan Kerajan Safawi di Persia.
            Adapun sebab-sebab kemunduran dan kehancuran Kerajaan Safawi yaitu:
1.      Adanya konflik yang berkepanjangan dengan Kerajaan Usmani berdirinya Kerajaan Safawi yang bermazhab Syiah merupakan sebuah Ancaman Bagi Kerajaan Usmani sehingga tidak pernah ada perdamaian antara kedua kerajaan besar ini.
2.      Terjadinya dekandensi moral yang melanda sebagian pemimpin kerajaan Safawi, yang juga ikut mempercepat proses kehancuran kerajaan ini. Kerajaan Sulaiman pecandu narkotik dan menyenangi kehidupan malam selama tujuh tahun tidak pernah sekalipun menempatkan diri menangani pemerintahan, begitu pula dengan Syah Husein.
3.      Pasukan Ghulam yang di bentuk Abbas I ternyata tidak memiliki semangat perjuangan yang tinggi seperti QizilBash. Hal ini di karenakan mereka tidak memiliki ketahanan mental kerena tidak di persiapkan secara terlatih dan tidak memiliki bekal rohani. Kemorosotan aspek kemiliteran ini sangat besar pengaruhnya terhadap lenyapnya ketahanan dan pertahanan kerajaan Safawi.
4.      Sering terjadinya konflik internal dalam bentuk perebutan kekuasaan di kalangan keluarga Islam.
5.      “ulama mulai meragukan otoritas Syah yang berlangsung secara turun temurun, sebagai penanggung jawab pertama atas ajaran Islam syiah”.

























BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pada awal abad ke-16 (1501 M) orang Persia dapat mendirikan sebuah kerajaan yang beraliran syi’ah dibawah pimpinan Shekh Ismail. Bangsa safawiyah adalah penganut sekte syi’ah yang taat dari keturunan imam ketujuhnya, yaitu imam Musa al-Qazim. Pada masa kekuasaan Timur Lang orang safawi berdiam di kota Ardabil, Azerbaijan. Terdapat seseorang sufi dan ulama terkenal yaitu Sheik Safiuddin Ishak adalah kakek dari Sheikh Ismail. Berangkat dari namanya inilah dinasti ini dinamakan Syafawiah.
      Kemajuan kerajaan Safawi terjadi pada masa pemerintahan Syah Abbas I, ia berhasil memperbaiki system politik dan perekonomian kerajaan sehingga banyak gedung-gedung yang di bangun pada masa pemerintahan. Gedung yang di bangun oleh Abbas I antara lain 162 unit Mesjid, 48 unit perguruan tinggi, 1082 unit Losmen untuk tamu syah, 237 unit pemandian umum. Bangunan yang palin terkenal adalah Mesjid Lutfullah, Istana Chihil Sutun, jembatan besar di atas sungai Zende Rud dan Taman Bunga Empat Penjuru.
      Kemunduran Safawi terjadi karena setelah Abbas I tidak ada lagi pemimpin Safawi yang secakap Abbas I dalam hal kepemimpinan. Dan terjadi konflik internal di dalam Kerajaan Safawi sendiri, di tambah lagi konflik dengan Turki Usmani.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Karim .M,Sejarah Pemikiran Dan Peradaban Islam, Yogyakarta PUSTAKA BOOK PUBLISHER, 2007.
Engneer, Asghar Ali, Asal-Usul dan Perkembangan Islam, Yogyakarta: Insist Bekerja Sama dengan Pustaka Pelajar, 1999.



[1] M. Abdul Karim, Sejarah Pemikiran Dan Peradaban Islam, (Yogyakarta PUSTAKA BOOK PUBLISHER, 2007), hlm.305
[2] Ibid, 306
[3] Ali Asghar Engneer, Asal-Usul dan Perkembangan Islam, (Yogyakarta: Insist Bekerja Sama dengan Pustaka Pelajar, 1999,) hlm.15
[4] Ali Asghar Engneer, Asal-Usul dan Perkembangan Islam, (Yogyakarta: Insist Bekerja Sama dengan Pustaka Pelajar, 1999,) hlm.20
[5] Ibid, hlm.23

Tidak ada komentar:

Posting Komentar